Sejarah Brigif 24/Bulungan Cakti

PENDAHULUAN

Sejarah dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk Raja-Raja yang memerintah). Selain itu Sejarah juga merupakan catatan perjalanan suatu peristiwa yang terjadi pada masa lampau atau sekarang serta nanti yang tidak dibatasi oleh waktu.

Sejarah menjadi sumber pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia yang selalu berkembang dari masa ke masa.  Sejarah sejatinya bukan saja hanya kenangan masa lalu tapi juga merupakan media dalam berfikir dan menentukan sikap dan mengambil suatu keputusan untuk berbuat.

Sejarah Kesultanan Bulungan merupakan bagian Sejarah Kerajaan-Kerajaan di wilayah Kalimantan Timur.  Sumber-sumber Sejarah menyebutkan bahwa sejak abad ke V masyarakat Kalimantan Timur sudah mengenal susunan pemerintahan yang teratur dan juga telah memiliki Sejarah yang cukup terkenal. Di dalam perjalanan Sejarah sekitar tahun  1555 hingga tahun 1958, wilayah Kalimantan Timur terbagi atas beberapa Kerajaan yakni Bulungan, Sembeliung dan Gunung Tabur.

Kerajaan-Kerajaan  inilah yang mewarnai Sejarah masa lampau di wilayah Kalimantan Timur yang kemudian menjadi catatan Sejarah bahwa Kerajaan Bulungan merupakan Sejarah yang menjadi cikal bakal Kabupaten Bulungan seperti yang kita kenal sekarang ini.

Kabupaten Bulungan merupakan bagian  Kabupaten dari Provinsi Kalimantan Timur yang secara Geografis letaknya berada di sebelah utara. Sejarah mencatat asal-usul penduduknya Kalimantan Timur memiliki latar belakang yang unik dan berbeda dengan asal usul penduduk Indonesia yang lain. Dari hasil penelitian dan pengkajian yang cukup lama oleh Ilmuwan dan Pakar Sejarah bahwa penduduk asli Kalimantan Timur termasuk juga Bulungan   adalah  berasal  dari  keturunan  “Proto Mulyo”  yaitu suku bangsa

“Murut” dari Yunan Selatan yaitu bangsa Tiongkok Selatan. Dari sinilah kemudian    dikenal   dengan   suku   “Dayak” yang pada perkembangannya dikenal menjadi dua Dayak yaitu “Dayak Kenya” dan “Dayak Kayan”. Penduduk Dayak yang hijrah kewilayah pantai melalui percampuran darah dan perkawinan dengan penduduk pendatang dari daerah atau negeri lain menjelma menjadi dua rumpun besar yaitu suku “Tidung” dan suku “Bulungan”.

Sejarah kerajaan Bulungan di mulai pada masa kepemimpinan Datuk Mancang (1555-1595) bersamaan dengan berakhirnya kepemimpinan yang dipimpin oleh kapala Suku/adat pada saat itu. Seiring dengan pengaruh perkembangan Islam di Wilayah Bulungan, maka sebutan Kerajaan Bulungan  berubah menjadi Kesultanan Bulungan. Sebagai  Sultan pertama adalah Wira Amir yang bergelar Sultan Amiril Mukminin (1731-1777). Maka semenjak masa inilah Kesultanan Bulungan menjadi masyhur dan kita kenal hingga sekarang ini.

Dengan pertimbangan historis dan ikatan emosional serta berdasarkan dari kemasyhuran Kesultanan Bulungan inilah Nama Kesultanan Bulungan di ambil sebagai Nama Brigade Infanteri 24 dengan sebutan Brigade Infanteri 24/ Bulungan Cakti.

SEJARAH SATUAN BRIGADE INFANTERI 24/BULUNGAN CAKTI
KODAM VI/MULAWARMAN

SEJARAH DAN LATAR BELAKANG KESULTANAN BULUNGAN

  1. Garis Besar Sejarah Kesultanan Bulungan

Sumber-sumber Sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke V masyarakat di Kalimanatan Timur sudah mengenal susunan pemerintahan yang teratur dan juga telah memiliki sejarah yang cukup dikenal.

Dalam catatan Sejarah Kerajaan di wilayah Kalimantan Timur  adalah Kerajaan Martadipura yang berkedudukan di sebelah kiri mudik sungai Mahakam di seberang Kota Muara Kaman sekarang. Ketika Kerajaan Martadipura ini mulai menurunkan kekuasaannya dan Mahapatih Gajah Mada Dari Majapahit mulai melaksanakan Sumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara, maka di daerah Kalimantan Timur timbullah tiga buah Kerajaan kecil yaitu  Kutai Kertanegara, Berau dan Pasir.

Di dalam perjalanan Sejarah, sekitar tahun 1555 hingga tahun 1958 wilayah Kalimantan Timur masih terbagi atas beberapa Kerajaan yakni Bulungan, Sembeliung dan Gunung Tabur di Berau.

  1. Sejarah Berdirinya Kesultanan Bulungan.

Awal berdirinya Kerajaan Bulungan adalah pada masa Datuk Mancang (1555-1595) ditandai dengan berakhirnya masa  pemerintahan oleh kepala suku/adat. Setelah wafatnya Datuk Mancang, berturut-turut kepemimpinan dialihkan  kepada menantunya yang bernama Singa Laut (1594-1631) yang merupakan Bangsawan Kesultanan Sulu, Philipina Selatan.

Setelah wafatnya Singa Laut digantikan anaknya yang bernama Wira Kelana (1618-1640), kemudian beralih secara berturut-turut kepada Wira Keranda (1640-1695) dan Wira Digendung (1695-1731). Pada masa Wira Digendung memerintah, pusat pemerintahan dialihkan dari Busang Arau ke daerah Limbu Long Baju yang terletak di desa Baratan Kecamatan Tanjung Palas.

Setelah wafatnya Wira Digendung kepemimpinan dialihkan kepada anaknya Wira Amir dimana kala itu istilah Darah Biru mulai diberlakukan. Wira Amir memperoleh Gelar sebagai Sultan pertama dengan nama Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) dengan pusat pemerintahan yang semula di Baratan dialihkan ke Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas  Tengah.  Pada masa inilah awal  mula Kesultanan Bulungan dikenal.

Setelah Wira Amir wafat, pada tahun 1777 kepemimpinan Kesultanan  Bulungan berpindah ketangan anaknya yaitu Aji Ali yang bergelar Sultan Alimuddin dan memindahkan pusat pemerintahan ke Tanjung Palas dengan alasan agar Salimbatu dipertahankan sebagai Daerah Lumbung Pangan Kerajaan “Daerah Persawahan”.

  1. Masa Mulainya Pengaruh Belanda.

Pada tahun 1817 Sultan Alimudin meninggal dan digantikan oleh Aji Muhammad yang bergelar Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin. Pada masa pemerintahan ini mulai berdatangan para pedagang asing dan luar daerah, termasuk diantaranya Belanda yang memiliki pos di Tanjung Selor dan mulai main paksa dalam berniaga.

Pengganti Raja Kesultanan Bulungan berikutnya adalah Datuk Alam dengan gelar Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil  yaitu pada tahun 1873 dan menjalankan pemerintahan dengan pendekatan keagamaan dan berhasil membangun istana baru dihilir istana lama serta merenovasi Masjid Jami Tanjung Palas. Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil  meninggal pada tahun 1875 karena diracun oleh Belanda.

Sepeninggal dari Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil  sebagai penggantinya adalah Sultan Kaharuddin II. Pada masa ini Belanda berhasil mempengaruhi kekuasaan Sultan dan pada tahun  1878 ditandatanganilah perjanjian kerjasama dengan Belanda. Di dalam perjanjian tersebut berisi bahwa Belanda mempunyai hak menentukan kebijakan Sultan Bulungan.

  1. Masa Kejayaan Kasultanan Bulungan.

Setelah Sultan Kaharuddin wafat pada tahun 1889, kepemimpinannya diganti oleh menantunya Si Gieng dengan gelar Sultan Adzimuddin. Pengangkatan Sultan Adzimuddin disahkan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda. Pada masa kepemimpinan Sultan Adzimuddin berhasil menjalankan misi politiknya dengan memanfaatkan peluang untuk kepentingan sosial kemasyarakatan. Pada tahun 1899 Sultan Adzimuddin wafat.

Sepeninggal Sultan Adzimuddin pemerintahan digantikan oleh isterinya yaitu Putri Sibut dan pada tahun 1901 digantikan oleh Datuk Belembung dengan gelar Sultan Maulana Muhammad Kasim Al Din yang disingkat Sultan Kasimuddin. Pada masa inilah Kesultanan Bulungan mengalami jaman keemasan dan posisi Belanda semakin terpuruk dengan sistem  politik yang dilakukan oleh Sultan Kasimudin. Pada tahun 1925 Sultan Kasimuddin wafat dan berturut-turut digantikan oleh Datuk Mansyur (1925-1930), Akhmad Sulaiman (1930-1931).

Pemegang  tampuk pimpinan Kesultanan Bulungan berikutnya atau yang terakhir adalah Datuk Tiras dengan gelar Sultan Muhammad Djalaluddin. Pada masa ini merupakan jaman transisi yaitu zaman penjajahan Belanda, Jepang  dan Awal Kemerdekaan. Sultan Datuk Tiras adalah tokoh yang sangat mendukung pendirian Negara Republik Indonesia.  Pada tanggal 17 Agustus 1949 pukul 07.00 untuk pertama kalinya Bendera Merah Putih dikibarkan di depan Istana dalam upacara resmi dipimpin oleh Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin.

LATAR BELAKANG BERDIRINYA BRIGIF 24/BULUNGAN CAKTI

Nama  Brigif-24/Bulungan Cakti diambil   dari nama   Kesultanan Bulungan yang berdiri pada sekitar abad  17 Masehi. Kesultanan Bulungan berpusat di wilayah Tanjung Palas yaitu tepi sungai Kayan yang saat ini masuk di wilayah Kabupaten Bulungan. Kesultanan Bulungan sangat masyhur dan terkenal hingga saat ini. Bukti-bukti peninggalan bersejarah Kesultanan Bulungan hingga saat ini masih tersimpan dengan baik, bahkan Silsilah/Ahli Waris hingga saat ini masih tetap ada dan diakui oleh  masyarakat  Bulungan.  Atas  dasar kemasyhuran Kesultanan Bulungan, maka

dipilihlah nama Bulungan sebagai nama Brigif-24 yaitu Brigif-24/Bulungan Cakti. Hal ini dimaksudkan sebagai sarana untuk mengikatkan Sejarah Kesultanan Bulungan dengan Satuan Brigif-24/Bulungan Cakti, agar seluruh masyarakat Bulungan dan sekitarnya ikut merasa memiliki Brigif-24/Bulungan Cakti.

Foto pada saat penandatanganan  peresmian Brigif-24/BC oleh Danbrigif pertama Di hadapan KASAD Jendral TNI George Toisutta

Foto pada saat penandatanganan  peresmian Brigif-24/BC oleh Danbrigif pertama
Di hadapan KASAD Jendral TNI George Toisutta

Foto pada saat penandatanganan  peresmian Brigif-24/BC oleh Danbrigif pertama Di hadapan KASAD Jendral TNI George Toisutta

Foto pada saat penandatanganan  peresmian Brigif-24/BC oleh Danbrigif pertama
Di hadapan KASAD Jendral TNI George Toisutta

Pembentukan Brigif-24/Bulungan Cakti berdasarkan pertimbangan dengan adanya kerawanan serta masalah-masalah yang timbul di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Wilayah perbatasan merupakan wilayah yang sensitif dan memerlukan perhatian khusus terutama masalah Patok perbatasan yang sering kali menimbulkan konflik dengan negara tetangga. Untuk mengatasi hal-hal yang mungkin terjadi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut, maka dengan berbagai pertimbangan yang matang Komando Atas membentuk satuan setingkat Brigif yaitu Brigif-24/Bulungan Cakti.

Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti  Kodam VI/Mlw terbentuk berdasarkan Peraturan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor : Perkasad / 60 / IX / 2009 tanggal 10 November 2009. Pada tanggal 15 Desember 2009 Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI George Toisutta secara langsung meresmikan Brigif-24/Bulungan Cakti Kodam VI/Mlw  di Jakarta. Pada saat diresmikan Brigif-24/Bulungan Cakti baru memiliki 25 personel BP dan belum memiliki satuan organik dibawahnya baik Denma maupun Batalyon. Baru pada tanggal 18 Maret 2010 dilaksanakan Upacara serahterima Alih Kodal Yonif 613/Rja dan Yonif 614/Rjp yang semula satuan di bawah Korem 091/ASN  beralih menjadi satuan  di bawah Brigif-24/BC. Dengan Upacara Alih Kodal yang dipimpin langsung oleh Pangdam VI/Mulawarman, maka sejak itu Brigif-24/BC memiliki dua satuan pelaksana yaitu Yonif 613/Rja dan Yonif 614/Rjp dan satu satuan unsur pelayan yaitu Denma Brigif-24/BC dengan jumlah personel awal 184 orang.

Foto pemeriksaan pasukan oleh Pangdam VI/Mlw pada saat Upacara Alih Kodal Yonif 613/Rja dan Yonif 614/Rjp dari Korem 091/ASN ke Brigif-24/BC

Foto pemeriksaan pasukan oleh Pangdam VI/Mlw pada saat Upacara Alih Kodal Yonif 613/Rja dan Yonif 614/Rjp dari Korem 091/ASN ke Brigif-24/BC

  1. Batalyon Infanteri 613/Berdiri Sendiri

Diresmikan pada hari Sabtu tanggal 3 Juni 1978 Jam 12:15 Wita di lapangan Merdeka Balikpapan oleh Kasad Jendral TNI Widodo dengan Surat Keputusan Kasad Nomor Skep / 305 / V / 1978 tanggal 1 Mei 1978 di bawah

Foto penyerahan Tunggul pada saat peresmian Yonif 613/Rja

Foto penyerahan Tunggul pada saat peresmian Yonif 613/Rja

Komando Daerah Militer IX/Mulawarman. Sebelum itu berdasarkan surat keputusan Kasad No. Skep / 305 / V / 1978 tanggal  1  Mei   1978   dan   surat   keputusan   Pangdam    IX / MW  Nomor :  Skep / III / Sops / VI / 1978 tanggal 22 Juni 1978 ditetapkan bahwa berdirinya Yonif 613/BS adalah pada tanggal 1 Mei 1978.

Sesuai Perintah Operasi Pangdam IX/Mw Nomor 2-RW-1 tanggal 1 Oktober 1984 tentang Reorganisasi Kodam IX/Mulawarman dan Surat Keputusan Pangdam IX/Mulawarman Nomor Skep / 18 / I / 1985 tanggal 22 Januari 1985 tentang Pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Bs kepada Korem 091/Aji Surya Natakesuma Kalimantan Timur.

Adapun peresmian pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Raja Alam kepada Korem 091/Aji Surya Natakesuma Kalimantan Timur dilaksanakan pada tanggal 6 Pebruari 1985 jam 09.00 Wita di Samarinda. Dengan demikian Batalyon Infanteri 613/Raja Alam secara resmi menjadi organik Korem 091/Aji Surya Natakesuma sejak peresmian tersebut di atas sampai dengan tahun 2010.

Foto Penyerahan Tunggul Batalyon Infanteri 613/BC Kepada Mayor Inf Muslim Hariyanto

Foto Penyerahan Tunggul Batalyon Infanteri 613/BC Kepada Mayor Inf Muslim Hariyanto

Berdasarkan Surat Perintah Pangdam VI/Tpr Nomor Sprin 274/III/2010 tanggal 8 Maret 2010. Batalyon Infanteri 613/Rja telah Alih Kodal menjadi Organik Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti dan acara peresmian pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Rja kepada Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2010 pukul 09.00 Wita di Bulungan. Kemudian berdasarkan ST Pangdam VI/Tpr Nomor St/537/2010 tanggal 10 Juni 2010 tentang peresmian Kodam VI/Mulawarman dan Kodam XII/Tanjungpura serta likuidasi Kodam VI/ Tanjungpura.  Dengan demikian maka Batalyon Infanteri 613/Raja Alam secara resmi menjadi organik Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti di bawah naungan Kodam VI/Mulawarman.

  1. Batalyon Infanteri 614/Rjp

Batalyon Infanteri 614/Rjp dibentuk berdasarkan Surat Keputusan KASAD Nomor Perkasad /221/XII/2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang pembentukan Batalyon Infanteri 614/ Raja Pandhita Korem 091/ASN Kodam VI/Tanjungpura sebagai Yonif diperkuat dengan dislokasi Satuan di Malinau.

Pembentukan Batalyon Infanteri 614/Rjp berdasarkan situasi yang sangat mendesak pada saat itu. Hal berkaitan dengan adanya banyak konflik dengan negara tetangga yaitu malaysia dalam permasalahan perbatasan. Pada saat yang sama Malaysia juga memperkuat Tentera Darat Malaysia di wilayah Negara bagian Serawak dan Sabah. Di samping itu Malaysia juga menyusun laskar Wataniah. Dengan semakin bertambahnya jumlah personel militer Malaysia khususnya Tentara Darat yang dislokasinya berbatasan langsung dengan NKRI di Pulau Kalimantan dan guna mengantisipasi Negara Malaysia yang selalu berupaya untuk mengambil alih Pulau terluar dan menggeser Patok perbatasan dan guna menjaga kedaulatan wilayah NKRI, maka dari Pimpinan Angkatan Darat membangun dua Batalyon Infanteri Diperkuat yang salah satunya adalah Yonif 614/Rjp.

Berdasarkan Surat Keputusan KASAD Nomor Perkasad /221/XII/2007 tanggal 10 Desember 2007 tentang pembentukan Batalyon Infanteri 614/ Raja Pandhita Korem 091/ASN Kodam VI/Tanjungpura sebagai Yonif Diperkuat yang berkedudukan di Malinau,  maka Yonif 614/Rjp diresmikan oleh Pangdam VI/Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Tono Suratman pada hari Sabtu tanggal 9 Agustus 2008 pukul 11.15 Wita dengan jumlah personel awal 119 orang, terdiri dari 8 Perwira, 17  Bintara, 94 Tamtama, dengan Danyonif 614/Rjp yang pertama adalah Letnan Kolonel Inf Nurkhan dan Wadanyonif 614/Rjp Kapten Inf Boyke Sukanta.

Foto penandatanganan Prasasti peresmian Yonif 614/Rjp oleh Pangdam VI/Tpr

Foto penandatanganan Prasasti peresmian Yonif 614/Rjp oleh Pangdam VI/Tpr

Foto Prasasti peresmian Brigif-24/BC yang ditandatangani oleh Pangdam VI/Tpr.

Foto Prasasti peresmian Brigif-24/BC yang ditandatangani oleh Pangdam VI/Tpr.

Selanjutnya pada tanggal 9 Agustus 2008 Tunggul Yonif 614/Rjp disahkan dengan nama “ RAJA PANDHITA “  Sejak saat itu  lengkaplah sudah sejarah terbentuknya Yonif 614/Rjp.

Dengan berkembangnya gelar kekuatan Kodam VI/Tpr yang ditandai dengan pembentukan Brigif baru yaitu Brigade Infanteri 24/BC, maka sejak tanggal 8 Maret 2010 berdasarkan Surat Perintah Pangdam VI/Tpr Nomor Sprin/274/III/2010, Yonif 614/Rjp melaksanakan alih Kodal dari Korem 091/ASN ke Brigif 24/BC.

ATRIBUT BRIGIF-24/BULUNGAN CAKTI.

Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor : Kep / 386 / XI / 2009 tanggal 10 November 2010  tentang pengesahan penggunaan Baret warna hijau tua/lumut dengan bahan kain wol. Untuk Badge dengan menggunakan Badge Kodam VI/Mlw, sedangkan Badge Lokasi dengan menggunakan tulisan Brigif-24 warna hitam dengan dasar warna merah dan lis warna kuning emas. Tanda kualifikasi Brigif-24/BC adalah Yudha Wastu Pramukha. Kemudian untuk tanda Satuan Brigif-24/BC Kodam VI/Mlw adalah dengan tulisan “Bulungan Cakti” warna merah pada dasar warna hijau, Bintang bersudut lima warna merah, Keris warna kuning dengan kain dasar tanda satuan warna hijau.

Foto lambang-lambang Dhuaja Brigif 24/Bulungan Cakti

Foto lambang-lambang Dhuaja Brigif 24/Bulungan Cakti

PERKEMBANGAN SATUAN BRIGIF-24/BULUNGAN CAKTI

  1. SEJARAH DARI MASA KEMASA

Brigif-24/Bulungan Cakti terbentuk pada tanggal 15 Desember 2009 yang ditandatangani langsung oleh KASAD yang pada waktu itu di jabat oleh Jendral TNI George Toisutta. Pada tanggal 18 maret 2010 Pangdam V/Mlw meresmikan alih Kodal 2 Batalyon Infanteri yang semula di bawah Korem 091/Asn  beralih di bawah Brigif-24/BC yaitu Yonif 613/Rja dan Yonif 614/Rjp, maka semenjak saat itu Brigif-24/BC memiliki 2 Yonif dan satu Denma Brigif.

  1. NAMA-NAMA PEJABAT DANBRIGIF-24/BC

Satuan Brigif-24/BC yang usianya relatif masih muda baru memiliki dua kali pejabat Danbrig.

Adapun pejabat Danbrigif-24/BC yang pertama dijabat oleh Kolonel Inf. Joppy Onesimus Wayangkau, mulai tahun 2009 sampai dengan 2011.

Selanjutnya pejabat Danbrigif-24/BC yang kedua dijabat oleh Kolonel Inf. Gabriel Lema, mulai tahun 2011 sampai dengan 2013, Seanjutnya Danbrigif-24/BC ketiga dijabat oleh Kolonel Inf Hartono, S.IP , mulai tahun 2013 sampai dengan awal 2015, Selanjutnya Danbrigif-24/BC yang keempat Dijabat Oleh Kolonel Inf Aditya Nindra Pasha, S.E sampai sekarang.

Pejabat Komandan Brigif 24/Bulungan Cakti

***