Profil Yonif Raider 613/Raja Alam

SEJARAH DAN TRADISI SATUAN
BATALYON INFANTERI 613/RJA

  1. PENDAHULUAN

Sebelum tahun 1942 kota Tarakan disebut sebagai pulau minyak dan menjadi salah satu perbekalan minyak Eropa dan Amerika di wilayah Utara Borneo. Perkembangan yang cukup pesat serta ditunjang oleh letak yang strategis, Tarakan kini semakin tumbuh dan berkembang dengan sebutan Kota Minyak, Kota Transit dan Perindustrian barang serta mobilitas manusia untuk Kawasan Utara Kalimantan Timur. Kondisi ini pula yang mengantarkan Tarakan menjadi pintu gerbang perjalanan wisata ke berbagai tujuan obyek wisata yang terkenal diwilayah Kalimantan Timur  dan bahkan ke negeri tetangga Malaysia.

Sejarah Tarakan berawal dari keberadaan komunitas masyarakat Tidung yang memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan. Kata “Tarakan“ diadopsi dari bahasa Tidung yang dihubungkan pada pola aktifitas masyarakat tersebut (Tidung), memposisikan pulau Tarakan pada awalnya hanya sebagai tempat beristirahat dan ”ngakan” (makan), pola aktifitas yang menjadikan pulau Tarakan sebagai tempat ”ngakan” (makan). Oleh para nelayan disekitarnya, akhirnya melekatlah kata ”Tarakan” untuk penyebutan pulau Tarakan. Sayangnya, belum banyak bukti-bukti kajian ilmiah untuk mengurutkan secara periodik dan kronologis sejarah Tarakan.

Dewasa ini banyak versi yang berkembang tentang eksistensi Tarakan dalam konteks sejarah. Disatu sisi sebagian masyarakat meyakini bahwa pulau ini di masa lampau merupakan daerah yang mandiri, daerah yang tidak terkait dengan wilayah Bulungan. Bahkan oleh sebagian masyarakat Tarakan, mempersepsikan daerah ini pernah menjadi pusat pemerintahan pada masa lampau setingkat kerajaan dan Raja terakhir bernama Datu Adil (1896-1916).

 

TARAKAN PADA MASA PENDUDUKAN BANGSA ASING

Kedatangan bangsa Belanda di Tarakan merupakan babakan baru dan tersendiri didalam perjalanan sejarah Tarakan, karena periode ini membawa perubahan signifikan atas pulau Tarakan. Penemuan sumber minyak pada tahun 1896 dan mulai diekspoitasi pada tahun 1899 oleh perusahaan swasta Belanda bernama Koninklijke Nederlansche Petroleum Company merupakan salah satu pemicu awal perubahan aspek politik, ekonomi dan sosial budaya masyarakat kota (Urban Society) yang Heterogen. Praktis Tarakan telah menjadi daerah yang ramai.

Perkembangan selanjutnya memasuki tahun 1942, pulau ini lagi-lagi menjadi ”saksi bisu” atas ambisi dan keserakahan manusia dengan praktek imprialisme dan kolonialismenya memperebutkan Tarakan karena posisi strategis dan sumber kandungan minyaknya. Perebutan penguasaan wilayah jajahan menjadi pemicu terjadinya pertempuran di Tarakan antara Belanda sebagai penguasa awal dalam menghadapi gerakan bangsa Jepang yang juga berambisi menduduki pulau ini pada tanggal 11 Januari 1945 dan beralih ke dalam penguasaan Jepang hingga pertengahan tahun 1945. Penguasaan Tarakan oleh Jepang tidak berjalan lama dan mereka terpaksa harus meninggalkan pulau ini karena kekalahan atas serangan kolaboratif kekuatan sekutu (Amerika, Inggris, Australia dan Belanda) di bawah komando tentara Australia melakukan serangkaian serangan darat, laut dan udara ke kantong-kantong pertahanan Jepang pada tanggal 1 Mei 1945 di Tarakan dan akhirnya pulau ini dapat dikuasai pasukan sekutu-Australia, walaupun harus merelakan 225 prajuritnya (yang teridentifikasi) gugur dalam pertempuran pengambil alihan penguasaan pulau ini dari pihak Jepang, sementara itu di pihak Jepang sendiri diperkirakan kurang lebih 1500 tentaranya gugur dan hilang dalam pertempuran berdarah di Tarakan.

Letak geografis Kalimantan Timur yang sangat strategis, karena merupakan pintu gerbang sebelah Utara Kepulauan Indonesia. Selain itu karena letaknya berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan daerah Kaltim khususnya bagian Utara sangat rawan terjadi tindak kejahatan, baik kejahatan Ilegal Logging, Fishing, dan Trafficking maka pada saat itu dibentuklah satuan yang akan menjaga wilayah NKRI bagian Utara Indonesia untuk menjaga kekayaan alam Kalimantan baik wilayah darat dan laut serta batas-batas strategis wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tidak terjadi pelanggaran dan kejahatan oleh masyarakat kita maupun negara asing, oleh karena itu pemerintah mengintruksikan agar pembentukan Batalyon Infanteri 613/BS oleh Kodam IX/Mulawarman.

Dalam rangka memotifasi semangat prajurit dalam pelaksanaan tugasnya dan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap satuan, maka dibuatlah berbagai macam metode pembinaan dan kegiatan. Salah satunya dengan membuat sejarah satuan,  dimana sejarah satuan tersebut sangat penting untuk diketahui oleh seluruh prajurit, karena sejalan dengan perkembangan informasi yang sangat cepat telah mempengaruhi  pola pandang dan pola pikir sebagian prajurit dan hal ini lambat laun dapat menggeser nilai – nilai kejuangan dan rasa cinta terhadap satuan.

 

  1. SEJARAH SATUAN
  2. Siapakah Raja Alam Itu.

Dilihat dari silsilah penguasa pada akhir zaman Hindu di wilayah Kuran atau Berau, yang bernama Aji Dilayas, maka Raja Alam keturunan dari Pangeran Tua.

Sedang Pangeran Tua adalah anak tertua dari Aji Dilayas dengan isteri pertamanya yang menggantikan ayahnya pada (1640 – 1673) dan pada masa itulah secara kebetulan agama Islam masuk ke Kuran dibawa oleh seorang musyafir arab yang bernama Mustafa  (J. Hageman Joz, 1855, hal 100). Pangeran Tua ini menurunkan raja-raja Sambaliung sekarang. Dari isteri Aji Dilayas yang kedua melahirkan Pangeran Dipati (1673-1700) yang menurunkan raja-raja Gunung Tabbur.

Dengan seringkalinya raja-raja keturunan Pangeran Dipati dari Gunung Tabbur melanggar perjanjian yang dibuat sejak masa pasca pemerintahan Aji Dilayas (1610 – 1640), tentang masalah tata cara pergantian pemerintahan raja-raja Kuran (Barrau) yang menyatakan bahwa, dimulai dari Pangeran Tua kemudian digantikan oleh adiknya pangeran Dipati dan selanjutnya kembali pada keturunan Pangeran Tua dan kemudian keturunan Pangeran Dipati dan seterusnya, namun hal ini tidak ditaati oleh keturunan Pangeran Dipati, penyimpangan dimulai pada pemerintahan Aji Kuning I (1700) yang menggantikan ayahnya Pangeran Dipati, kemudian pada masa pemerintahan Sultan Badaruddin (1770) menggantikan Zainal Abidin I yang ketiga kalinya pada masa pemerintahan Aji Kuning II menggantikan Zainal Abidin II (1813).

Pertentangan dan pelanggaran ini tidak pernah berakhir, dan prasangka ini dikembangkan oleh penjajah Belanda. Pertentangan masih bersemi dalam jiwa masyarakat Gunung Tabur dan Sambaliung hingga bibit perpecahan tidak pernah berkurang, hal ini juga mewarnai kebijakan yang diambil oleh pengambil keputusan di daerah ini.

Pada masa dimana seharusnya pemerintahan jatuh pada giliran Raja Alam tahun 1813 waktu ini Sultan Zainal Abidin II (Si Taddan Raja Tua) berhalangan, karena ucapan dan isi pembicaraannya tidak dapat dimengerti orang lain akibat penyakit yang dideritanya. Aji Kuning II menyatakan dirinya sebagai orang yang paling berhak menggantikan saudaranya dari keturunan yang sama, dimana hal tersebut telah melanggar perjanjian yang luhur yang telah mereka sepakati, maka Raja Alam dengan pengikutnya tidak senang akan keputusan itu dan sesuai perjanjian leluhur atau konsensus nasional maka Raja Alam mengangkat dirinya menjadi Raja Kurrau (Barrau) yang berkedudukan di Batu Putih (1813). Kemudian Tahun 1833 dengan segala kekuatannya Raja Alam menyerang ke Gunung Tabbur yang dikuasai Aji Kuning II untuk menyatakan memisahkan diri dari kerajaan Kuran atau Barrau sebagai kerajaan Tanjung menjelang 1834 dan apabila Sultan Gunung Tabbur, Aji Kuning II tidak bersedia mengikuti dan membuat perjanjian maka tidak bisa ditawar-tawar, Raja Alam akan menghancurkan kerajaan Gunung Tabur dan mengusainya.

Untuk menjaga agar kerajaan Gunung Tabbur tidak sampai diduduki oleh pasukan Raja Alam, maka dengan berat hati Aji Kuning II bersedia membuat perjanjian dan mengakui Kerajaan Tanjung sebagai kerajaan yang berdiri sendiri, walaupun kerajaan Gunung Tabbur dibantu oleh Sultan Salehuddin dari kerajaan Kutai namun tetap tak berdaya menahan tekanan dari pasukan Raja Alam  dan membagi dua wilayah Kuran dan Barrau, disebelah Utara menjadi kerajaan Tabbur sedangkan di bagian Selatan menjadi kerajaan Sambaliung.

Yang istimewa menurut  S.G. IN’T Veld Seorang kontroleur kelas I yang berkedudukan di Banjarmasin adalah perubahan nama Kerajaan Tanjung menjadi Kerajaan Sambaliung. Samba artinya sembah yang harus dilakukan oleh penduduk pada Rajanya, Liung dalam bahasa Banjar berarti menyingkir, yang bebas Negara (kawasan dimana sembah itu berlaku ).

Yel Sambaliung ini pertama kali ditujukan kepada Sultan Gunung Tabbur Aji Kuning II, yang merampas hak Raja Alam untuk manjadi Sultan Kuran atau Barrau menggantikan Sultan Zainal Abidin II (Si Tandda Raja Tua) 1813, dan berikutnya ditujukan pada pemerintah Hindia Belanda yang menyerang Raja Alam Tahun1834 yang terkenal dengan perang lautnya mulai bulan April hingga September 1834.

Untuk menghadapi pasukan marinir Pemerintah Hindia Belanda, Raja Alam dengan Yel dan slogan perjuanganya di samping ”Sambaliung” juga dengan simbol keagamaan ”Jihad Fisabilillah” sebagai alat pembakar semangat perjuangan rakyatnya melawan penjajah Belanda.

  1. Kepahlawanan Yang Ditunjukan Oleh Raja Alam (Sultan Alimuddin).

Sejak didirikan kerajaan Sambaliung di Batu Putih (1813) hingga dilanjutkan ke Ibukotanya Tanjung (1833) sebagai kerajaan yang berdaulat dan berdiri sendiri Raja Alam telah merasa tenang dan dapat mengatur kerajaanya, tinggal memikirkan bagaimana selanjutnya mempertahankan keutuhan dan kemakmuran rakyatnya. Kerjasama yang baik dengan sahabat-sahabatnya orang-orang Bugis dan Solok semakin dibina dengan baik melalui menantunya Syarif Dakula dan mertuanya Pangeran Petta, sehingga Raja Alam mendapatkan bantuan pelaut-pelaut yang tangguh, untuk menambah kekuatan armadanya yang terdiri dari ratusan perahu-perahu perang di bawah pimpinan Syarif Dakula dan perahu-perahu laut yang dipimpin oleh mertuanya Pangeran Petta dan Panglima Limbutu.

Armada Raja Alam ini dipecah dalam beberapa wilayah, yaitu wilayah sepanjang pantai Barrau yang berpusat di Batu Putih, sedang armada Pangeran Petta  dan Panglima Limbutu beroperasi di muara dan sungai Kuran, sedang Raja Alam sendiri bersama putra-putranya Hadil Jalaluddin, Kaharudin bertahan di ibukota Tanjung dan sekitarnya.

Kekuatan Raja Alam ini sangat menggangu perasaan Aji kuning II dari kerajaan Gunung Tabbur yang sangat berambisi untuk menjadi penguasa tunggal diwilayah Kuran atau Barrau. Dalam kesempatan yang tidak terduga tiba-tiba berlabuh sebuah kapal perang Nomor 18 yang dipimpin oleh Kapten Pelaut Anemaet di perairan sungai Kurran, oleh Aji Kuning II kesempatan baik ini tidak disia-siakanya, dan ia menghadap pada Kapten Anamaet dan menyatakan dirinya ingin bersahabat dan menyatakan dirinya mengakui kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda dan bersumpah setia kepada Pemerintah Hindia Belanda, dengan syarat pemerintah Hindia Belanda harus menghancurkan kerajaan Sambaliung, di bawah Pimpinan Raja Alam, mendengar peryataan itu Pemerintah Hindia Belanda diwakili Kapten Laut Anemaet, menyanggupi dan menerimanya dan mulai saat itu, wilayah Kerajaan Gunung Tabbur telah menjadi daerah jajahan Pemerintah Hindia Belanda setelah Aji Kuning II bersumpah setia kepada Pemerintah Hindia Belanda 27 September 1834.

Pada bulan April 1834, Belanda menyiapkan armada yang cukup kuat untuk menandingi  kekuatan armada Raja Alam yang terdiri dari kapal api jenis Korvet “de Heldin de Brik Siwa,” jenis skoner “Krokodil” dan “Kastor” Serta perahu-perahu perang yang di kirim dari Makasar. Pada bulan September 1834 armada Belanda ini telah sampai di Batu Putih, seranganpun dilakukan dan pihak Raja Alam menahan serangan Belanda dengan kekuatan yang ada dan cukup seimbang, dengan perhitungan yang cukup hati-hati. Namun senjata Belanda memang lebih canggih sehingga Batu Putih dapat dihancurkan dan kemudian target terahir adalah menyerang ibukota Kerajaan Tanjung untuk dibumi hanguskan sekaligus menagkap Raja Alam dengan isterinya Andi Nantu, Hadi Jalaluddin. Pangeran Ratu Ammas Mira dengan Syarif Dakula dan Kaharuddin atau Bongkok yang menjadi buron Belanda karena berhasil melarikan diri bersama sisa-sisa kekuatannya di Selat Makassar dan melanjutkan Pemerintahan Kerajaan Tanjung dalam pelarian (1834-1837), Raja Alam walaupun telah ditangkap oleh Belanda, namun tetap tidak mau mengakui kedalatan Belanda, seperti apa yang dilakukan Aji Kuning II, maka tidak ada cara lain harus mengasingkan Raja Alam bersama keluarganya di tahanan Negara di Makassar. Dalam pelayaran menuju Makassar Syarif Dakula memberontak di laut sehingga terjatuh dan meninggal di selat Makassar.

Istri Syarif Dakula dan anaknya dikembalikan ke Batu Putih, sesampai di Barrau ia diperisteri oleh mantan Sultan Zaenal Abidin II (Si Taddan Raja Tua) dari Gunung Tabbur Batu Putih, pengurusannya diserahkan kepada Pangeran Mud dari Kutai atas persetujuan Belanda. Pangeran ini memerintah hanya 2 tahun, dan pada Tahun 1836 bersama Sultan Gunung  Tabbur, Aji Kuning II memasukan permohonan agar Raja Alam diperkenankan pulang ke Batu Putih dengan syarat harus tunduk kepada Sultan Gunung Tabbur, hal ini tentu saja akan tunduk pada perintah Hindia Belanda, sebab sebelumnya kerajaan Gunung Tabbur lebih dulu telah mengakui kedaulatan Belanda dan bersumpah setia pada pemerintah Hindia Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1837 dikeluarkan akte pengampunan untuk Raja Alam.

 

  1. Alasan Raja Alam Mau Menandatangani Perjanjian 24 Juni 1837.

Pertimbangan pertama, disadarinya bahwa surat permohonan Aji Kuning II bersama Pangeran Muda itu adalah sebuah mimpi lama yang diinginkan oleh Sultan Gunung Tabbur untuk menjadi penguasa tunggal di wilayah Kuran atau Barrau, termasuk siasat Zaenal Abidin yang mengawini putrinya Pangeran Ratu Ammas Mira adalah perkawinan politik. Sedangkan Belanda berkepentingan untuk membuat Raja Alam tunduk dan menjadi bawahan Gunung Tabbur, sebagai usaha untuk menebus malu dan jangan sampai Raja Alam meninggal dalam tahanan negara dalam kapasitas sebagai Sultan yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Hindia Belanda dimana sejak tahun 1834 pada saat Raja Alam ditangkap, tetap menolak kedaulatan pemerintah Belanda, dan akhirnya harus diasingkan ke Makassar. Penandatanganan ini dilakukan Raja Alam sebagai siasat dan didasarkan pada akal sehat, sebagaimana perang harus punya tujuan yang jelas, dan tidak asal perang. Dengan perkataan lain walupun Raja Alam harus menandatangani perjanjian atau akte pengampunan 24 Juni 1837 harus diartikan sebagai usaha untuk menyelamatkan perjuangan yang masih panjang, itulah sebabnya begitu Raja Alam menghirup udara bebas ia kembali mulai membangun kerajaannya dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dan dengan dibantu oleh sahabat-sahabatnya pejuang Bugis dan Solok. Pada saat yang sama Raja Alam menyatakan menolak untuk mematuhi isi perjanjian yang terdapat dalam akte pengampunan 24 Juni 1937.

Pada akhir tahun 1844 secara diam-diam pemerintah Hindia Belanda mengakui kerajaan Batu Putih atau Sambaliung sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Ketentuan bahwa Raja Alam harus tunduk pada kerajaan Gunung Tabbur belum pernah ditaatinya dan diantara kedua belah pihak masih tetap bermusuhan, yang berarti pula bahwa Raja Alam tidak mau taat mau pada pemerintahan dan kemauan politik Belanda seperti apa yang tercantum dalam akte pengampunan 24 Juni 1837.   Dan 1884 untuk pertama kalinya Raja Alam disapa oleh Komisaris A.L. Weddik sebagai Sultan.

Situasi yang mendukung Raja Alam dengan mulus mendirikan kembali kerajaanya di Batu Putih setelah ia keluar dari tahanan negara karena didasarkan kepada keberanian yang telah dipertimbangkan, mengingat pengikut-pengikut setianya dan sahabat-sahabatnya pejuang-pejuang Bugis masih konsisten dengan sumpahnya untuk membantu kerajaan mana saja di Nusantara yang melawan Belanda atau penjajah Eropa lainnya, dan kenyataannya pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda sedang tidak mampu mengatasi kejadian apapun di Selat Makassar. Hal ini merupakan indikator bahwa pemerintah Hindia Belanda saat itu sudah tidak berdaya, hal ini sesuai pula dengan penjelasan bekas Skiber H. Van Dewall dan pendapat itu dibela pula oleh bekas kepala tertinggi Opperhoofd “Van De Compagnie” untuk daerah Kalimantan Selatan dan Timur dan Gubernemen Kalimantan dan daerah taklukkannya dalam surat resmi tanggal 1 September 1840 dan 16 Pebruari 1849 sudah menjadi kenyataan yang mengkhawatirkan.

Secara ringkas pendapat-pendapat mereka sebagai berikut “Memberi perintah-perintah saja dan membuat kontrak politik saja, tidaklah akan menolong kalau perintah-perintah dan kontrak itu tidak dipegang teguh“ dan setiap urusan di Kalimantan Timur dan Timur Laut hanyalah dapat diselesaikan dengan baik apabila dilaksanakan dengan pameran kekuatan sebelumnya.

Disinilah tersembunyi sebab-sebab mengapa Pesisir Timur Kalimantan begitu berbeda secara menyedihkan dengan semua daerah di Indonesia. Tidak seorangpun pegawai bagaimanapun cakap dan beraninya, akan dapat mengambil sikap bebas untuk mengatasi halangan-halangan yang ada. Apapun peraturan-peraturan yang akan diambil untuk memberantas pembajakan, perdagangan budak belian dan itikad jahat umumnya, dengan harapan akan berhasil baik dan menimbulkan hormat dan takut terhadap Gubernemen. Semuanya ini tidak berhasil dengan baik seandainya pejabat itu tidak dapat menggunakan kapal bertiang dengan perlengkapan yang baik atau kapal api, suatu kesatuan militer, kesatuan polisi dan perumahan. Hal ini cukup dijelaskan oleh Skiber Sipil H. Van Dewall yang beberapa lama bertugas dipantai Timur ini.

Situasi lainnya pemerintah Hindia Belanda sudah mengetahui bagaimana besar pengaruh Inggris di Serawak dan malah sudah sampai ke pedalaman Brunai untuk menahan pengaruh Inggris di Kalimantan Timur bagian Utara yaitu wilayah Barrau dan Bulungan adalah mengusahakan jangan sampai Inggris bersekutu dengan Raja Alam untuk menghadapi pengaruh pemerintah Hindia Belanda, sebab dengan kerjasama Inggris dengan Raja Alam akan mudah bagi Inggris untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah Baru dan Bulungan sebab Hindia belanda sudah tahu bagaimana pendirian dan kekuatan Raja Alam dan bagaimana hubungan darah Raja Alam dengan Sultan Bulungan.

 

Maka walaupun Sultan Gunung Tabbur Aji Kuning II protes habis-habisan pada pemerintah Hindia Belanda atas pengakuannya terhadap kedaulatan kerajaan Batu Putih atau Sambaliung dibawah Raja Alam, namun pemerintah Hindia Belanda tidak peduli dan mulai saat itu komisaris AL. Weddik menyapa Raja Alam sebagai Sultan untuk pertama kalinya (1844).

Ternyata ramalan pemerintah Hindia Belanda ada benarnya dimana Inggris beberapa saat kemudian dapat membuat perjanjian dengan Sultan Gunung Tabbur (1844) dan Sultan Bulungan  (1845) namun dengan Raja Alam tidak ada perjanjian Inggris sebab Raja Alam tetap pada pendiriannya menganggap para penjajah baik Belanda maupun Inggris sebagi musuh bagaimanapun juga.

Tanggal 7 Juli 1848 Raja Alam wafat digantikan putranya Sultan Hadi Jalauddin (1848-1850) dibawah Raja Alam dan Sultan Hadi Jalauddin kerajaan Batu Putih atau Sambaliung ini benar-benar merdeka tanpa adanya tekanan atau pengaruh kekuasaan pihak manapun termasuk pemerintah Hindia Belanda. Baru pemerintah Hindia Belanda berhasil membuat perjanjian dengan kerajaan Sambaliung di bawah pemerintahan Sultan Asyik Syarifuddin (Tanggal 4 Nopember 1850).

Masa pemerintahan Raja Alam terdiri dari dua periode, Periode I (1813-1834) sebelum kedatangan pemerintah Hindia Belanda hingga terjadinya perang laut mulai April – September 1834 antara pasukan marinir Hindia Belanda dengan armada Raja Alam di laut Batu Putih hingga ke ibukota kerajaan Tanjung. Periode ke II 1837-1848 setelah Raja Alam keluar dari tahanan Negara di Makassar dan kembali ke Batu Putih setelah di dalam tahanan menandatangani surat Akte Pengampunan 24 Juni 1837 yang merupakan siasat Raja Alam demi menyelamatkan perjuangannya yang masih panjang.

Walaupun kemerdekaan kerajaan Sambaliung periode II terhitung pendek (1837-1850) hanya kurang lebih tiga belas tahun, namun menggambarkan bagaimana kerasnya usaha Raja Alam untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan rakyat Indonesia menolak kerja sama apalagi mengakui kedaulatan Belanda, sekalipun harus menggunakan siasat seolah-olah menerima Akte Pengampunan bersyarat dari Hindia Belanda

 

Berlandaskan sifat kepemimpinan Raja Alam, maka nama Raja tersebut diabadikan dengan dasar yang ditetapkan oleh Kodam IX/Mulawarman pada Batalyon Infanteri 613/Raja Alam yang berkedudukan di  Tarakan  Kalimantan  Timur  dengan  Nomor :  Skep / 07 / 3 / I / 1978 tanggal 20 Januari 1978 kemudian nama ”Raja Alam” dinyatakan sebagai  Pahlawan  Sambaliung  Kabupaten Berau yang berdasarkan surat Pangdam  VI/Tanjungpura  Nomor :    / 8 / 711 / IX / 1993 dengan Motto ”SETIA DAN PANTANG MENYERAH DALAM PERTEMPURAN”.

  1. Pembentukan/Pemrakarsa.

Pembentukan di prakarsai oleh para pejuang dan sesepuh yang telah berjuang di daerah Kalimantan melihat begitu luasnya daerah yang belum dijaga oleh TNI sebagai alat negara untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Dengan alasan tersebut diatas dan setelah berkonsultasi dengan seluruh unsur yang terkait maka terbentuklah Batalyon Infanteri 613/Rja.

  1. Kapan Dibentuk.

Batalyon Infanteri 613/Berdiri Sendiri diresmikan pada hari Sabtu tanggal 3 Juni 1978 Jam 12:15 Wita \\\di lapangan Merdeka Balikpapan oleh Kasad Jendral TNI Widodo dengan Surat Keputusan Kasad Nomor Skep / 305 / V / 1978 tanggal 1 Mei 1978 di bawah Komando Daerah Militer IX/Mulawarman. Sebelum itu berdasarkan surat keputusan Kasad No. Skep / 305 / V / 1978 tanggal  1  Mei   1978   dan   surat   keputusan   Pangdam    IX / MW

Nomor :  Skep / III / Sops / VI / 1978 tanggal 22 Juni 1978 ditetapkan bahwa berdirinya Yonif 613/BS adalah pada tanggal 1 Mei 1978.

Sesuai Perintah Operasi Pangdam IX/Mw Nomor 2-RW-1 tanggal 1 Oktober 1984 tentang Reorganisasi Kodam IX/Mulawarman dan Surat Keputusan Pangdam IX/Mulawarman Nomor Skep / 18 / I / 1985 tanggal 22 Januari 1985 tentang Pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Bs kepada Korem 091/Aji Surya Natakesuma Kalimantan Timur.

Adapun peresmian pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Raja Alam kepada Korem 091/Aji Surya Natakesuma Kalimantan Timur dilaksanakan pada tanggal 6 Pebruari 1985 jam 09.00 Wita di Samarinda. Dengan demikian Batalyon Infanteri 613/Raja Alam secara resmi menjadi organik Korem 091/Aji Surya Natakesuma sejak peresmian tersebut di atas sampai dengan tahun 2010.

Berdasarkan Surat Perintah Pangdam VI/Tpr Nomor Sprin 274/III/2010 tanggal 8 Maret 2010. Batalyon Infanteri 613/Rja telah Alih Kodal menjadi Organik Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti dan acara peresmian pengorganikan Batalyon Infanteri 613/Rja kepada Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2010 pukul 09.00 Wita di Bulungan. Kemudian berdasarkan ST Pangdam VI/Tpr Nomor St/537/2010 tanggal 10 Juni 2010 tentang peresmian Kodam VI/Mulawarman dan Kodam XII/Tanjungpura serta likuidasi Kodam VI/ Tanjungpura. Dengan demikian maka Batalyon Infanteri 613/Raja Alam secara resmi menjadi organik Brigade Infanteri 24/Bulungan Cakti di bawah naungan Kodam VI/Mulawarman.

  1. Dimana Terbentuk Batalyon Infanteri 613/Rja.

Batalyon Infanteri 613/Rja dibentuk dan diresmikan di lapangan Merdeka Balikpapan Kalimantan Timur, kemudian letak dan penempatan Batalyon Infanteri 613/Rja di Tarakan yaitu Mako Yonif, Kompi Markas, Kompi Senapan A, Kompi Senapan C dan Kompi Bantuan kemudian Tanjung Selor untuk Kompi Senapan B.

Awal berdirinya Batalyon Infanteri 613/Rja pertama kali dipimpin oleh Mayor Inf  Muslim Haryanto  dibantu Perwira Staf, Danki dan Danton yang dijabat Bintara Tinggi, adapun pejabat-pejabat pada saat itu sebagai berikut:

Danyonif Mayor Inf Muslim Hariyanto
Wadan Yonif Kapten Inf Roespono
Kasi 1/Lidik Lettu Inf Harun Rasyid
Kasi 2/Ops Kapten Inf I. Soehardjo
Kasi 3/Pers Lettu Inf R. Radjasa
Kasi 4/Log Kapten Inf Narvik Master
Dankima Kapten Inf Bambang Santoso
Dankipan – A Lettu Inf Bambang Merdeko.
Dankipan – B Lettu Inf Soeprapto DP.
Dankipan – C Lettu Inf Heryadi.
Danki Ban Lettu Inf Setiyadi
Dokter Yon Lettu Cdm Suwono
Pekas Pelcapa Supar

 

1)            Personel.

Batalyon Infanteri 613/Rja pada saat terbentuk disusun dan ditempatkan sementara diperumahan yang ada di Balikpapan sedangkan Mako Yonif untuk sementara menggunakan bangunan bekas kantor DEN ZIPUR- 7 di Balikpapan, sedangkan kekuatan personel Bintara dan Tamtama secara kwalitas terpenuhi ± 50 %, dan pejabat Danton terisi 50 % dengan dijabat Bintara Tinggi, sedangkan pejabat Danyon, Perwira Staf, dan Danki dapat terisi 100 %.

2)            Organisasi Satuan

Batalyon Infanteri 613/Rja pada saat itu sudah terbentuk namun masih banyak kekurangan dengan kondisi satuan yang masih baru dan fasilitas yang masih kurang, oleh karena itu maka dibentuklah organisasi kekuatan kerangka.

  1. Sarana dan Prasarana serta persenjataan.

Sementara waktu menunggu pengisian materiil maka sarana yang diperlukan merupakan pinjaman untuk mendukung terbentuknya kesatuan baru ini, kemudian pada tahun 1978 dilaksanakan perpindahan sebagian pasukan yang telah dipersiapkan tepatnya pada tanggal 25 Desember 1978 bagi anggota Kipan C langsung menuju ke Mamburungan Tarakan yang dipimpin Danki Lettu Inf Heriyadi. kemudian dengan selesainya persiapan Home Base Mako Yonif dan juga Kompi Bantuan sisa pasukan berangkat menuju Tarakan tepatnya pada tanggal 3 Agustus 1979 untuk menempati Home Base yang di Juata, dan tidak terlalu lama Kompi Bantuan berangkat menuju Gunung Seriang Tanjung Selor.

***