Demam Tifoid

Oleh : dr. Melirina Romauli Simanjuntak
(Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang LX Brigif-24 PD VI/Mulawarman)   

PENDAHULUAN

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.

Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella typhosa dan hanya didapatkan pada manusia. Penularan penyakit ini hampir selalu terjadi malalui makanan dan minumamn yang terkontaminasi.

Beberapa terminologi lain yang erat kaitannya adalah demam paratifoid dan demam enterik. Demam paratifoid secara patologis maupun klinis sama dengan demam tifoid, namun biasanya lebih ringan. Penyakit ini disebabkan oleh spesies Salmonela enteridis terdapat 3 bioserotipe salmonella enteriditis, yaitu bioserotipe paratyphi A, Paratyphi B, (Salmonella Scotemoeleri) dan Paratyphi C (Salmonella hirschfeldi), sedangkan demam enterik dipakai baik pada demam tifoid maupun demam paratifoid.

Sampai saat ini, demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan, hal ini disebabkan oleh kesahatan lingkungan yang kurang memadai, penyediaan air minum yang tidak memenuhi syarat, serta tingkat sosial ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat yang kuarang. Walaupun pengobatan demam tifoid tidak terlalu manjadi masala, namun diaknosis kadang-kadang menjadi masalah, terutama ditempat yang tidak dapat dlakukan pemerikasaan kuman maupun pemerikasaan laboratorium penunjang. Mengingant hal tersebut diatas, pengenalan gejala klinis menjadi sangant penting unrtuk membantu diagnosis.

SEJARAH

Bretoneau (1813) melporkan pertamakali tentang gambaran klinis dan klainan anatomis dari demam tifoid, sedangkan Cronwalls Hewett (1826) malporkan perubahan patalogisnya.

Piere Lois (1829) memberikan nama typhos yang bersal dari bahasa Yunani dengan arti asap atau kabut, karna umumnya penderita sering disertai gangguan kesadaran dari yang ringan sampai berat.

A. Pfeifer berhasil pertama kali menemukan kuman Salmonella dari fases penderita, kemudian dalam urine oleh Hueppe dan dalam darah oleh R. Neuhaus. Pada waktu yang bersamaan Widal (1896) berhasil memperkenalkan dignosis serologis demam tifoid.

ETIOLOGI

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman salmonella typhosa/Ebertella typhosa yang merupakan kuman gram negatif, motil dan tidak menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rendah, serta mati pada suhu 70o C ataupun antiseptik. Sampai saat ini, diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.

Salonella typhosa mempunyai 3 macam antigen, yaitu:

  • Antigen O = Ohne Hauch = antigen somatik (tidak menyambar).
  • Antigen H = Hauch (menyambar), terdapat pada flagela dan bersifat termolabil.
  • Antigen V1 = Kapsul = merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O terhadap fagositosis.

Ketiga jenis antigen tersebut didalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan 3 macam yang lazim disebut Aglutinin. Salmonella typhosa juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik.

Ada 3 spesies utama, yaitu :

  • Salmonella typhosa (satu serotipe)
  • Salmonella choleraesius (satu serotipe)
  • Salmonella enteretidis (lebih dari 1500 serotipe).
Gbr. Salmonella thyphii

Gbr. Salmonella thyphii

Gbr. Salmonella thyphii

Gbr. Salmonella thyphii

EPIDEMIOLOGI DAN DISTRIBUSU PENYAKIT

Demam tifoid di jumpai kosmopolitan, saat ini terutama ditemukan di negara sedang berkembang dengan kepadatan penduduk tinggi, serta kesahatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Diperkirakan inseden demam tifoid pada tahun 1985 di Indonesia sebagai berikut :

  • Umur 0-4 tahun : 25, 32%
  • Umur 5-9 tahun : 35,59%
  • Umur 10-14 tahun : 39,09%

Survei Kesehatan Rumah Tangga 1985/1986 menunjukkan demam tifoid (klinis) sebesar 1200per 105 penduduk /tahun. Umur penderita yang terkena di Indonesia (daerah endemis) dilaporkan antara 3-19 tahun mencapai 91% kasus.

Angka kejadian penyaikit ini tidak berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.  Pengaruh cuaca terutama meningkat pada musim hujan, sedangkan dari kepustakaan barat dilaporkan terutama pada musim panas.

PATOFISOLOGI

Bakteri masuk melalui saluran cerna, dibutuhkan jumlah bakteri 105-109 untuk dapat menimbulakn infeksi. Sebagian besar bakteri mati oleh asam lambung. Bakteri yang tetap hidup akan masuk ke dalam ileum melalui mikrovilli dan mencapai plak Peyeri, selanjutnya masuk kedalam pembuluh darah (disebut bakteremia primer). Pada tahap berikutnya, S.typhii menuju ke organ sistem retikuloendotelial yaitu hati, limpa, susum tulang, dan organ lain (disebut bakteremia sekunder). Kandung empedu merupakan organ yang sensitif terhadap infeksi S.typhii.

MANIFESTASI KLINIS

1)            Keluhan utama

  • Demam terutama sore atau malam hari
  • Konstipasi
  • Hanoreksia atau tidak selera makan
  • Batuk
  • Mual
  • Nyeri kepala
  • Diare

2)            Tanda penting

  • Agak tuli
  • Lidah tifoid (Tremor, tengah kotor, tepi hiperemis)
  • Nyeri tekan/spontan pada perut di daerah McBurney (kanan bawah)

DIAGNOSA BANDING

Sesuai dengan perjalanan penyakit tifoid, permulaan sakit harus dibedakan antara lain :

  • Bronkitis
  • Influenza
  • Bronkhopneumonia

Pada stadium selanjutnya harus dibedakan :

  • Demam Paratifoid
  • Malaria
  • TBC milier
  • Pielitis
  • Meningitis
  • Endokarditis kardial
  • Rickettsia

Pada stadium toksik harus dibedakan :

  • Leukimia
  • Limvoma
  • Penyakit Hodgkin

Dalam mengidentifikasi penyakit yang menyerupai demam tifoid harus berpegang pada anamnesis (tanya jawab antara dokter dan pasien), gejala dan tanda klinis, serta pemeriksaan laboratorium meliputi bakteriologis/serologis dan pemeriksaan tambahan lain yang diperlukan.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

  • Kultur empedu (darah, sumsum tulang)
  • Tes Widal : titer O > 160, titer H > 640
  • Peningkatan titer Widal 4 kali dalam 1 minggu dianggap demam tifoid positif

KOMPILKASI

Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas 2 bagian :

1)            Komplikasi pada usus halus :

  • Perdarahan
  • Perforasi
  • peritonitis

2)            Kompilkasi di luar usus halus :

  • Bronkitis
  • Bronkopneumonia
  • Ensefalopati
  • Kolesistitis
  • Meningitis
  • Miokarditis
  • Karier kronik
Gbr. Perdarahan pada usus halus

Gbr. Perdarahan pada usus halus

PENATALAKSANAAN

Penderita yang dirawat dengan diagnosis praduga demam tifoid harus dianggap dan dirawat sebagai penderita demam tifoid yang secara garis besar ada 3 bagian, yaitu :

  1. Perawatan

Penderita demam tifoid perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi, observasi serta pengobatan. Penderita harus istirahat 5 -7 hari bebas panas, tetapi tidak harus tira baring sempurna, mobilisasi dilakukakan sewajarnya sesuai dengan kondisi pasien. Pada penderita kesadaran yang menurun harus diobservasi agar tidak terjadi aspirasi.

  1. Diet

Beberapa peneliti menganjurkan makanan padat sesuai dengan keadaan penderita dengan memperhatikan segi kualitas aatupun kuantitas dapat diberikan dengan aman. Kualitas makanan disesuaikan kebutuhan baik kalori, protein, elektrolit, vitamin, maupun mineral serta diusahakan makanan yang rendah/bebas selulosa (serat), dan menghindari makanan yang sifatnya iritatif.

  1. Obat-obatan

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi sebelum adanya obat-obatan antimikroba (0-15%). Sejak adanya obat antimikroba terutama kloramfenikol angka kematian menurun secara derastis (1-4%).

Obat-obat anti mikroba yang sering digunakan antara lain : Kloramfenikol, tiamfenikol, kotrikmiksasol, ampisilin, amoksisilin, seftriakson, sefotaksim, ciprofloksasin (usia > 10 tahun)

PENCEGAHAN

Usaha pencegahan dapat dibagi atas :

  1. Usaha terhadap lingkungan hidup :
  • Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
  • Pembuangan kotoran manusia yang higienis
  • Pemberantasan lalat
  • Pengawasan terhadap penjual makanan
  1. Usaha terhadap manusia :
  • Imunisasi : Vaksin Salmonella typhosa yang dimatikan, vaksin dari strain Salmonella yang dilemahkan (Ty 21 a), vaksin polisakarida kapsular Vi (Typhi Vi).
  • Menemukan dan mengobati karier
  • Pendidikan kesahatan masyarakat

PROGNOSIS

Progonis tergantung pada umur, keadaaan umum, gizi, derajat kekebalan penderita, cepat dan tepatnya pengobatan serta komplikasi yang ada

REFERENSI

Alisyahbana A, Suhartini T, Wiradisurya S, Sugiri. Salmonellosis in infants and children in Bandung. Paediatr Indones. 1970.,10:67

Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 jilid ke 2

Panduan praktis ilmu penyakit dalam edisi ke 2

***

 

About admin

Admin Web Brigif 24/BC

Leave a comment

Your email address will not be published.


*